“Instrumen soft diplomacy untuk mempererat kerjasama dan mengurangi konflik antar negara yang bersangkutan, sehingga mengoptimalkan kinerja dan menarik atensi masyarakat untuk mencapai visi misi dari institusi tersebut.”
Cosmopolitan Green-Design digunakan pada Goethe Institut, karena bersifat urban atau perkotaan dimana hasil perancangan memiliki ciri minimalis, edgy, dan memperhatikan kelestarian sumber daya alam. Dengan konsep cosmopolitan, ruang memiliki kesan terang dan segar, sehingga dapat dipadu dengan unsur organik dengan memasukkan unsur tumbuhan. Selain itu, tumbuhan juga dapat memberikan warna focal point pada rancangan dengan warna -warna netral.
Gaya yang akan dipakai pada perancangan ini adalah Gaya Bauhaus. Bauhaus adalah sebuah aliran (gaya) arsitektur yang didirikan oleh Walter Gropius pada tahun 1919. Pada perancangan ini “form follows function” diterapkan, yang pada abad ke-21 bertransformasi ke “function follows human needs, form follows human behavior” sehingga tiap elemen dalam perancangan akan menitikberatkan pada kebutuhan dan pola aktivitas pengguna ruang.
Furniture-furniture yang akan dipakai bersifat modular karena fleksibel dan bagian-bagiannya dapat beradaptasi dengan mudah sesuai kebutuhan. Selain furniture yang bersifat modular juga akan digunakan furniture yang terbuat dari material kayu untuk memberi kesan alami/natural pada ruang. Keberagaman fasilitas tempat ini juga meliputi: Ruang kelas, perpustakaan, auditorium, gallery, kantor, dll.
Bagikan Karya Seni Ini: