Karya ini masuk kedalam pameran “Caraka Bumi” yang merupakan pameran mahasiswa Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta untuk turut dalam peringatan Hari Bumi sekitar 1 bulan yang lalu, tepatnya 22 April. Karya-karya yang hadir dalam pameran ini menunjukkan rasa apresiasi perupa terhadap keindahan lingkungan, serta karya yang menunjukkan masalah kerusakan yang terjadi pada lingkungan. Caraka, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti pembawa pesan. Dalam pameran ini, perupa hadir sebagai pembawa pesan yang berupa karyanya.
Detail Karya:
Judul Karya : Nyawa yang Tenggelam
Media : Plat Dry Point, tinta diatas plat akrilik.
Ukuran Karya : 30×42 cm
Tahun Pembuatan : 2021
Jumlah penangkapan hiu dari tahun ke tahun terus bertambah. Hiu adalah salah satu penghuni lautan yang memiliki nilai jual tinggi bagi manusia. Sering kali para nelayan hanya membutuhkan sirip ikan hiu sehingga ia menangkap dan memotong sirip-sirip ikan hiu itu dan dikembalikan lagi ke laut dalam keadaaan hidup tanpa siripnya. Sirip bagi ikan berfungsi sama seperti kaki dan tangan pada manusia, mereka menggunakan siripnya untuk berenang, dan hiu-hiu itu dibiarkan mati tenggelam di rumahnya sendiri. Sirip-sirip ikan hiu ini dimanfaatkan untuk hidangan istimewa dengan harga yang fantastis, yaitu adalah sup sirip ikan hiu. Pada zaman dahulu, sup ini adalah sebuah sajian bagi raja-raja maupun konglomerat di China dengan tujuan hanya untuk
pamer kekayaan, kekuatan, dan kekuasaan. Hiu dikenal sebagai predator yang agresif, untuk menangkapnya saja membutuhkan keberanian dan kekuatan, itulah mengapa sup sirip ikan hiu berharga sangat mahal.
pada masa sekarang pula, memancing ikan hiu bukanlah hal yang illegal, akan tetapi ada beberapa spesies ikan hiu yang dilindungi karena terancam punah, ketika nelayan secara sengaja maupun tidak sengaja menangkap hiu yang dilindungi, maka tindakannya pun menjadi illegal. di Jepang, para nelayan menangkap ikan hiu dengan cara memancingnya lalu menusukan tombak dari besi ke daerah kepala hiu tersebut agar lebih cepat mati dan tidak ada perlawanan dari hiu tersebut.
Karya ini saya buat karena bagi saya sup sirip ikan hiu bukanlah budaya yang pantas untuk dipertahankan di masa sekarang ini, melihat banyaknya nelayan-nelayan sadis yang menenggelamkan hiu tersebut kembali ke laut dalam keadaan masih hidup. dengan objek hiu martil tanpa sirip-siripnya, saya ingin menggambarkan sebuah tragedi yang mengerikan karena hiu martil memiliki sirip yang panjang dan besar, dan itu berarti harga siripnya akan semakin mahal ketika dijual.
Dengan bangunan berarsitektur Cina yang besar, saya ingin menyampaikan bahwa ini adalah suatu budaya yang tidak memiliki nilai filosifis yang baik. ikan hiu dijadikan sebuah fondasi berdirinya restoran-restoran seafood mewah dengan tragedi mengerikan dibalik harga makanannya yang sangat mahal.