Dalam karya Fragmen dalam Lingkaran, seniman memilih kayu sebagai medium dasar material yang berasal dari tubuh alam, dan mengolahnya dengan cat akrilik menjadi tiga panel berbeda. Setiap panel tidak berdiri sendiri, melainkan menyusun sebuah narasi perjalanan eksistensial manusia.
lingkar pertama menghadirkan bentukbentuk organik menyerupai sel yang diperkuat dengan warna merah muda dan magenta. Fragmen ini mengingatkan pada citra mikroskopis kehidupan pada tahap awal: rapuh, cair, namun penuh energi. Kehadiran warna terang yang kontras dengan tekstur kayu menandai titik awal, tempat segala sesuatu bermula.
lingkar kedua dipenuhi dengan puluhan mata yang menatap dari berbagai arah. Warna oranye, ungu, dan hitam yang mendominasi membentuk atmosfer intens: sebuah ruang di mana manusia hidup dalam sorotan pandangan kolektif. Mata-mata ini dapat dibaca sebagai simbol kesadaran, pengawasan sosial, hingga refleksi diri. Di dalamnya terselip paradoks: mata adalah jendela pengetahuan, namun juga alat kontrol.
Lingkar ketiga menjadi titik sintesis. Di sini, potongan-potongan warna merah, oranye, ungu, dan hijau terjalin dalam pola mosaik yang rumit, terikat oleh garis hitam yang menyerupai benang atau jaringan kosmik. Fragmen-fragmen terpisah itu sesungguhnya membentuk satu kesatuan besar, sebagaimana kehidupan manusia adalah kumpulan pengalaman yang saling berkait. Warna hijau yang muncul sekejap memberi penanda akan pertumbuhan, harapan, dan kelahiran ulang di tengah hiruk pikuk dunia.
Melalui tiga lingkaran ini, seniman mengajak kita menafsir perjalanan manusia: dari asal biologis, melalui kesadaran sosial, hingga menyatu dalam jaringan kosmos . Fragmen dalam Lingkaran adalah perenungan tentang bagaimana hidup yang terpecah-pecah tetap menemukan keutuhannya dalam lingkaran semesta.”