“Figur Perempuan” merupakan representasi visual tentang kondisi perempuan kontemporer yang kehidupannya kerap terpecah-pecah oleh berbagai tuntutan, ambisi, dan batasan. Sosok dalam lukisan ini tidak digambarkan utuh, melainkan terdiri dari potongan bidang berwarna-warni yang saling bersinggungan. Fragmentasi tersebut menyerupai mosaik, menghadirkan metafora tentang bagaimana perempuan kini harus bernegosiasi dengan beragam peran: sebagai individu, sebagai anggota keluarga, sekaligus sebagai bagian dari masyarakat yang menaruh harapan tinggi padanya.
Warna-warna yang kontras menegaskan ketegangan batin itu—ada keceriaan, tetapi juga kegelisahan; ada semangat, tetapi juga keterbelahan. Figur ini tampak berusaha berdiri tegak, seolah ingin tetap berpegang pada tradisi dan nilai-nilai yang diwarisi sejak kecil. Namun, dorongan modernitas dan tuntutan sosial kerap menyeretnya ke arah yang berlawanan, sehingga posisinya menjadi rapuh, mudah terombang-ambing.
Dalam kompleksitasnya, karya ini tidak hanya menghadirkan perempuan sebagai sosok yang terbelah, melainkan juga sebagai simbol kekuatan. Dari kepingan-kepingan yang berbeda itu, terbentuk suatu keutuhan baru: identitas perempuan yang terus berubah, berlapis, dan dinamis. Lukisan ini akhirnya menjadi refleksi atas perjalanan perempuan modern yang senantiasa mencari keseimbangan di antara tradisi dan perubahan.””