Pameran Tugas Akhir SDS/SSN – Tinggal Ketok

Setiap perjalanan panjang selalu memiliki titik akhir yang menentukan. Bagi mahasiswa, khususnya di ranah seni rupa dan desain, titik itu adalah ketika karya yang selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun dipikirkan, dirancang, dan diwujudkan akhirnya dihadapkan pada ruang penilaian dan pengesahan. Momen tersebut seringkali sederhana, ditandai dengan ìketok paluî, namun sesungguhnya menyimpan lapisan makna yang dalam: ia adalah penanda transisi, sebuah ritus yang memisahkan fase akademik dengan dunia profesional. Dari sinilah pameran ìTinggal Ketokî lahir, sebagai ruang untuk merayakan, merefleksikan, dan mengapresiasi perjalanan panjang para mahasiswa FSRD IKJ.

Pameran ini berdiri di persimpangan. Ia bukan hanya tentang tugas akhir sebagai sebuah syarat kelulusan, melainkan juga tentang bagaimana karya tersebut menjadi representasi diri yang siap dibawa ke medan kreatif yang lebih luas. Mahasiswa berada pada momen liminal, di satu sisi masih dalam konteks akademik, di sisi lain sudah menginjakkan kaki pada dunia profesional. ìTinggal Ketokî dengan demikian menjadi penanda transisi: dari proses belajar ke praktik nyata, dari ruang aman ke medan penuh tantangan, dari tugas menjadi pernyataan.

Untuk mengartikulasikan momen transisi ini, pameran ìTinggal Ketokî mengusung konsep utama Onward & Backward.

  • Onward / Forward : Menggambarkan perasaan mahasiswa setelah sidang, ketika semua kerja keras menemukan ujungnya. Di fase ini, muncul perasaan lega, harap, dan optimisme. Ada momentum baru untuk melangkah maju, membawa karya sebagai bekal sekaligus identitas ketika memasuki fase kehidupan profesional. Onward adalah arah masa depan, tentang keberanian untuk menatap, melangkah, dan menembus batas berikutnya.
  • Backward / Lookback: Namun setiap langkah ke depan selalu disertai dengan momen menoleh ke belakang. Backward adalah ruang refleksi: mengingat begadang, diskusi, revisi, kritik dosen, bahkan kegagalan yang membentuk proses kreatif. Fase ini bukan sekadar nostalgia, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap perjalanan, kesadaran bahwa setiap keberhasilan hari ini dibangun oleh jejak yang panjang dan penuh warna. Backward adalah rasa bangga, rasa.

Kedua arah ini, Onward dan Backward, saling melengkapi. Mereka menghadirkan pengalaman emosional yang kompleks: menunggu, cemas, lega, refleksi, harap, hingga bangga. Pameran “Tinggal Ketok” berusaha menangkap kompleksitas ini dan menerjemahkannya ke dalam pengalaman ruang pamer yang ekspresif, dinamis, dan emosional.

“Tinggal Ketok” bukan hanya ruang presentasi formal, melainkan juga sebuah perayaan. Ia adalah bentuk apresiasi terhadap karya mahasiswa yang telah melalui proses panjang. Dalam pameran ini, publik seni dan sesama mahasiswa diajak untuk ikut larut dalam spektrum emosi yang sama: ketegangan saat menanti, kelegaan saat tiba, dan kebanggaan saat semuanya tuntas.

Dengan demikian, pameran ini tidak hanya menghadirkan objek karya, tetapi juga atmosfer emosional yang menyertainya. Setiap karya adalah fragmen dari perjalanan personal, setiap instalasi adalah percakapan antara individu dengan prosesnya, dan keseluruhan pameran.

Visualisasi pameran tidak berhenti pada karya sebagai hasil akhir, tetapi juga berusaha merepresentasikan perasaan dan emosi mahasiswa: kecemasan, harap, refleksi, hingga kebanggaan. Dalam hal ini, gaya visual yang edgy, punk, raw, dan eksperimental menjadi bahasa utama, bukan sekadar estetika, melainkan sikap yang mencerminkan identitas kolektif mahasiswa FSRD IKJ.

Pameran ìTinggal Ketokî tidak hanya menampilkan apa yang telah dikerjakan, tetapi juga bagaimana mahasiswa merasakannya. Pameran menjadi semacam emosional archive, arsip yang bukan berupa dokumen kaku, melainkan pengalaman sensori.

Di titik akhir, pameran ini adalah tentang momentum. “Tinggal Ketok” menjadi tanda bahwa sebuah fase telah selesai, namun sekaligus membuka fase baru yang lebih menantang. Ia adalah selebrasi, bukan hanya untuk mahasiswa yang berhasil mencapai titik ini, tetapi juga untuk seluruh ekosistem seni dan desain yang ikut membentuk mereka.

Di titik akhir, pameran ini adalah tentang momentum. “Tinggal Ketok” menjadi tanda bahwa sebuah fase telah selesai, namun sekaligus membuka fase baru yang lebih menantang. Ia adalah selebrasi, bukan hanya untuk mahasiswa yang berhasil mencapai titik ini, tetapi juga untuk seluruh ekosistem seni dan desain yang ikut membentuk mereka.

Bagi para mahasiswa, pameran ini adalah panggung untuk menyatakan keberanian mereka. Bagi audiens, ini adalah kesempatan untuk ikut menyelami denyut emosional perjalanan kreatif tersebut. Dan bagi FSRD IKJ, “Tinggal Ketok” adalah cermin dari semangat institusi: mendukung kebebasan berekspresi, keberanian.

 

Bagikan Karya Seni Ini:

Impulsive Rage

Veronica Sarah Panjaitan, S.Ds.

Zesty Morsels

Syakirah Salsabila Nafi'ah Ramadhani, S.Ds.

Nightscape Symphony

Shinta Devi Sujaya, S.Ds.

Velocity Flow

Ratu Safira, S.Ds.

Eternal Horizon

Nasywa Zahradina Tunggal Dewi, S.Ds.

Metaphors In Motion

Nabiha Amani Una, S.Ds.

Whisper of the Sacred Sea

Muhammad Rizky Dwi Mawanda, S,Ds.

Expressive Essence

Gibrania Amira, S.Ds

Luminous Motion

Angela Sekar Arum Pawitrasari, S.Ds.

Tangan Yang Bekerja Dengan Hati Yang Berjuang

Hana Theresia Angelian Sirait, S.Sn.

1.Distraction 2.Rabun 3.Traumatic

Bryan Wira Jeremia, S.Sn.

Perancangan Interior BINUS School

Muhammad Al Davy, S.Ds.

Cafenient

Zaky Sigit Susanto, S.Ds.

Perancangan Sign System Mall of Indonesia

Stevi Angelica Budiyanto, S.Ds.

Perjalanan Sehat Empat Sahabat

Sonya Mawaddah, S.Ds.

Komedi Berdiri

Ryahardian Novarie Guntur K, S.Ds.

Leo Bukan Tokek Seram!”

Putri Syafira, S.Ds.

Komik “Asjun & Coky!”

Muhammad Satrio Fahrirohman, S.Ds.

What if Men?

Marchelly Maureen Sabathani, S.Ds.

Offline, But Not Really

Gilia Ratu Damaira, S.Ds.

Colors in You

Fazila Raisa Beby Muryanto, S.Ds.

Sharing is (S)caring

Faris El Mahsa, S.Ds.

Bimo and Magic Words

Fanny Azzahra, S.Ds.

Hello, I’m Your Bestie!

Denia Mutiara Deslilia S.Ds.

BLOOMY

Alzena Fitri Aulia, S.Ds.

Board Game “Napak Pasundan”

Adya Rizky Maulana, S.Ds.

Debunking Climate Change Myths

Clarisa Rasyida Vania Putri, S.Ds.

Rebound For Indonesian Basketball Culture

Christopher Adimas Sakti Indarto, S.Ds.

Jejak Ringan Gede Pangrango

Bima Evandra Putra, S.Ds.

Rose Of No Man’s Land

Alaisha Rusevira Tabina, S.Ds.